Perilaku Orangtua yang Membuat Anak Stres

Siapa bilang hanya orang dewasa saja yang bisa terserang stres? Anak-anak pun bisa. Biasanya orang dewasa terserang stres karena masalah pekerjaan, keuangan dan lainnya. Bagaimana dengan anak, apa pemicu stres mereka?

Rustika Thamrin, Spsi, CHt, CI, MTLT, psikolog dari Brawijaya Women and Children Hospital mengatakan faktor penyebab anak menjadi stres adalah perilaku dari orangtuanya sendiri. Menurut Rustika ada beberapa perilaku orangtua yang tidak disadari bisa menimbulkan tekanan pada anak, yang pada akhirnya mengakibatkan stres.

Berikut beberapa penyebabnya:

1.Melarang anak menangis
Semua orangtua pasti ingin anaknya menjadi anak yang hebat. Namun seringkali orangtua tidak menyadari bahwa kata-kata motivasi yang diberikan justru membebani anak, dan mungkin saja membuat mereka menjadi stres. Beban dan tekanan ini terutama dialami oleh anak laki-laki dibanding perempuan, karena di kultur Indonesia laki-laki itu dianggap mahluk yang paling kuat sehingga tidak boleh menunjukkan kelemahannya sedikit pun.

Masuknya perkataan ini ke otak anak akan membuat anak selalu menahan tangisnya, dan memendam perasaan sedihnya. Hal inilah yang membuat anak menjadi stres. Tidak heran kalau laki-laki jarang dan malu menangis, karena dari kecil sudah dijejali dengan perkataan jangan menangis. Padahal orang sah-sah saja untuk menangis dan mengeluarkan perasaan mereka. Menangis boleh saja, yang harus dikontrol adalah frekuensinya.

2.Membeda-bedakan anak
Banyak orangtua yang secara tak sadar membeda-bedakan anaknya. Meski dalam perbuatan tidak terlalu terlihat, namun intonasi suara yang turun naik ketika menghadapi kakak dan adik akan membuat anak merasakan adanya pembedaan sikap orangtua. Ketika adik kakak berkelahi biasanya nada bicara orangtua akan lebih lembut ke adik dibanding kakak, karena mengganggap bahwa kakak yang sudah lebih dewasa harus mengalah. Intonasi suara yang berbeda ketika menghadapi kakak dengan nada yang keras, dan adik dengan nada yang lembut, akan membuat si kakak merasa si adik lebih disayang dan ia pun menjadi tertekan.

3.Perilaku orangtua tidak konsisten
Menurut penelitian, anak-anak usia 1-7 tahun akan lebih mudah menyerap berbagai hal di sekitarnya melalui bahasa tubuh seseorang (90 persen), intonasi suara (7 persen), dan kata-kata (3 persen). Orangtua yang plin-plan akan membuat anak kebingungan, dan akhirnya stres karena orangtuanya tidak konsisten.Seharusnya orangtua bersikap tegas dalam mendidik anak, dan antara suami dan istri bekerjasama agar tercapai kata sepakat. Misalnya, anak dihukum ketika melakukan sebuah kesalahan. Namun ketika ia mengulangi kesalahannya, orangtua tidak menghukumnya. Bahasa tubuh orangtua yang tidak konsisten ketika menghadapi masalah yang sama, seperti kadang bersikap galak dan kadang baik, akan membuat anak tertekan.

4.Labeling pada anak
Tanpa sadar orangtua memberikan lebel negatif pada anak seperti, bodoh, nakal dan malas. Hal ini akan membuat anak merasa seperti apa yang dikatakan oleh orangtunya dan membuat sang anak jadi kurang percaya diri. Hati-hati labeling, apalagi yang diiringi dengan tindakan membanding-bandingkan anak, tak hanya membuat anak merasa tertekan, tetapi juga mengalami luka batin yang akan terbawa hingga ia dewasa.

5. Terlalu sering melarang
Ketika anak berusia 4-6 tahun, anak sedang berada dalam zona kreatif dengan peningkatan rasa ingin tahu dan ingin belajar yang sangat tinggi. Namun sikap kreatif anak dan daya ekplorasinya dianggap sebagai kenakalan lalu berusaha membatasi gerak mereka. Gunakan kata-kata lain yang lebih baik untuk mengarahkan anak, sehingga anak akan menerimanya dengan positif. Anak akan mengerti bahwa Anda melarangnya melakukan hal tersebut karena berbahaya, dan bukan karena tidak sayang pada anak.
Kalau selalu dilarang, suatu saat anak bisa mencuri-curi untuk melakukannya saat Anda tidak tahu.

Anak-anak dan dewasa memiliki pola pikir berbeda. Anak, khususnya pada balita, hanya menyerap kata-kata yang terdengar, tapi belum mampu memprosesnya dengan sempurna seperti yang dilakukan orang dewasa.

(Dikutip dari berbagai sumber)

Yukk…membuat pelangi….

Mengajar “Terjadinya Pelangi” dengan Media Gelas Air, dan Kertas oleh Kak Marina

Membuat Pelangi Berbahan Gelas  dan Air + Kertas
Oleh Kak Marina

Pelangi merupakan suatu busur spektrum besar yang terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air. Pelangi adalah gejala optik dan meteorologi berupa cahaya beraneka warna saling sejajar yang tampak di langit atau medium lainnya. Di langit, pelangi tampak sebagai busur cahaya dengan ujungnya mengarah pada horizon pada suatu saat hujan ringan. Pelangi juga dapat dilihat di sekitar air terjun yang deras.
Bagaimana mengajarkan  anak-anak tentang  proses terjadinya  pelangi? Tentu  tidak  mudah  untuk  menjelaskannya  kepada anak-anak bila kita  hanya menjelaskannya sebatas teori  saja. Mari  kita lihat prakteknya dan alat-alat  yang  digunakan.

nativegrreen.blogspot.com
Mengajar “Terjadinya Pelangi”

Bahan-bahan yang  digunakan oleh Kak  Marina adalah:
1. Gelas
2. Air
3. Kertas putih
4. Buku / kertas untuk  mencatat
5. Pot  (benda lain sebagai alas gelas).

Cara  mengejarkannya adalah  sbb:
1. siapkan kertas hvs putih
2, gelas bening diisi air penuh
3, Taruh  gelas  di atas baskom
4. Letakka di tempat yang  terkena sinar matahari, kalau di ruang gelap bisa coba pake senter sebagai pengganti matahari
5. Akan terlihat  warna-warna  yang  bermacam-macam (seperti warna pelangi).

Kegiatan selanjutnya, anak-anak bisa kita ajak   untuk  menggambar sebuah pelangi. Warna yang  digambar oleh anak-anak  adalah  sesuai dengan gambar yang  dilihat di atas kertas putih. Kemudian anak-anak bisa menghiasi  pelangi dengan pemandangan alam. Percobaan  ini bisa dilakukan dalam  mengajar anak didik bertema alam  semesta.
Bagaimana? Menarik  Bukan? Kalau  anda ingin tahu lebih lanjut tentang percobaan  di atas, silakan tanya langsung  pada Kak Marina  , dengan klik FORUM TK DAN PAUD. Jangan lupa, sebelum klik FORUM TK DAN PAUD, silakan aktifkan akun Facebook anda terlebih dahulu, dan bila berkenan silakan bergabung di FORUM TK DAN PAUD agar anda menemukan banyak teman  kreatif lainnya baik yang  berprofesi  sebagai pendidik maupun orang  tua  dari seluruh pelosok  tanah air.
sumber:Karya Kak Zepe, lagu2anak.blogspot.com

Perilaku Orangtua yang Membuat Anak Stres

Siapa bilang hanya orang dewasa saja yang bisa terserang stres? Anak-anak pun bisa. Biasanya orang dewasa terserang stres karena masalah pekerjaan, keuangan dan lainnya. Bagaimana dengan anak, apa pemicu stres mereka?

Rustika Thamrin, Spsi, CHt, CI, MTLT, psikolog dari Brawijaya Women and Children Hospital mengatakan faktor penyebab anak menjadi stres adalah perilaku dari orangtuanya sendiri. Menurut Rustika ada beberapa perilaku orangtua yang tidak disadari bisa menimbulkan tekanan pada anak, yang pada akhirnya mengakibatkan stres.

Berikut beberapa penyebabnya:

1.Melarang anak menangis
Semua orangtua pasti ingin anaknya menjadi anak yang hebat. Namun seringkali orangtua tidak menyadari bahwa kata-kata motivasi yang diberikan justru membebani anak, dan mungkin saja membuat mereka menjadi stres. Beban dan tekanan ini terutama dialami oleh anak laki-laki dibanding perempuan, karena di kultur Indonesia laki-laki itu dianggap mahluk yang paling kuat sehingga tidak boleh menunjukkan kelemahannya sedikit pun.

Masuknya perkataan ini ke otak anak akan membuat anak selalu menahan tangisnya, dan memendam perasaan sedihnya. Hal inilah yang membuat anak menjadi stres. Tidak heran kalau laki-laki jarang dan malu menangis, karena dari kecil sudah dijejali dengan perkataan jangan menangis. Padahal orang sah-sah saja untuk menangis dan mengeluarkan perasaan mereka. Menangis boleh saja, yang harus dikontrol adalah frekuensinya.

2.Membeda-bedakan anak
Banyak orangtua yang secara tak sadar membeda-bedakan anaknya. Meski dalam perbuatan tidak terlalu terlihat, namun intonasi suara yang turun naik ketika menghadapi kakak dan adik akan membuat anak merasakan adanya pembedaan sikap orangtua. Ketika adik kakak berkelahi biasanya nada bicara orangtua akan lebih lembut ke adik dibanding kakak, karena mengganggap bahwa kakak yang sudah lebih dewasa harus mengalah. Intonasi suara yang berbeda ketika menghadapi kakak dengan nada yang keras, dan adik dengan nada yang lembut, akan membuat si kakak merasa si adik lebih disayang dan ia pun menjadi tertekan.

3.Perilaku orangtua tidak konsisten
Menurut penelitian, anak-anak usia 1-7 tahun akan lebih mudah menyerap berbagai hal di sekitarnya melalui bahasa tubuh seseorang (90 persen), intonasi suara (7 persen), dan kata-kata (3 persen). Orangtua yang plin-plan akan membuat anak kebingungan, dan akhirnya stres karena orangtuanya tidak konsisten.Seharusnya orangtua bersikap tegas dalam mendidik anak, dan antara suami dan istri bekerjasama agar tercapai kata sepakat. Misalnya, anak dihukum ketika melakukan sebuah kesalahan. Namun ketika ia mengulangi kesalahannya, orangtua tidak menghukumnya. Bahasa tubuh orangtua yang tidak konsisten ketika menghadapi masalah yang sama, seperti kadang bersikap galak dan kadang baik, akan membuat anak tertekan.

4.Labeling pada anak
Tanpa sadar orangtua memberikan lebel negatif pada anak seperti, bodoh, nakal dan malas. Hal ini akan membuat anak merasa seperti apa yang dikatakan oleh orangtunya dan membuat sang anak jadi kurang percaya diri. Hati-hati labeling, apalagi yang diiringi dengan tindakan membanding-bandingkan anak, tak hanya membuat anak merasa tertekan, tetapi juga mengalami luka batin yang akan terbawa hingga ia dewasa.

5. Terlalu sering melarang
Ketika anak berusia 4-6 tahun, anak sedang berada dalam zona kreatif dengan peningkatan rasa ingin tahu dan ingin belajar yang sangat tinggi. Namun sikap kreatif anak dan daya ekplorasinya dianggap sebagai kenakalan lalu berusaha membatasi gerak mereka. Gunakan kata-kata lain yang lebih baik untuk mengarahkan anak, sehingga anak akan menerimanya dengan positif. Anak akan mengerti bahwa Anda melarangnya melakukan hal tersebut karena berbahaya, dan bukan karena tidak sayang pada anak.
Kalau selalu dilarang, suatu saat anak bisa mencuri-curi untuk melakukannya saat Anda tidak tahu.

Anak-anak dan dewasa memiliki pola pikir berbeda. Anak, khususnya pada balita, hanya menyerap kata-kata yang terdengar, tapi belum mampu memprosesnya dengan sempurna seperti yang dilakukan orang dewasa.

(Dikutip dari berbagai sumber)

Buat Kupu-Kupu dari Kawat Yuk!

pu – kupu memang indah dilihat ketika sedang mengembangkan sayapnya. Tidak heran banyak orang yang kagum dan ingin memiliki kupu-kupu dengan cara menangkapnya. Tapi jika anda menangkap kupu-kupu secara besar-besaran bisa jadi populasi kupu-kupu akan terancam juga.

Untuk mencari kupu-kupu tidaklah harus menangkapnya. Lalu bagaimana? Kita bisa membuat tiruannya yang tidak kalah cantiknya dengan kupu-kupu yang asli. Tertarik? Yuk kita lihat tutorialnya!

Sebelum membuat kupu-kupunya, tentu saja harus siapkan bahannya seperti:

· Kawat berukuran 24
· Kertas karton berwarna (untuk warna bisa di sesuaikan sesuai dengan selera)
· Gunting
· Gelang karet silikon
· Tang
· Isolasi
· Kuas
· Spidol hitam
· Cat berwarna putih/tipe X

Sudah siapkah semua bahan-bahan diatas? Jika sudah, tidak perlu berlama-lama lagi untuk memulai pembuatan karya kreatif ini.

1. Pertama – tama, ambil kawat dan potong kawat dengan menggunakan tang untuk pembuatan sayap kupu-kupu dan badan kupu-kupu. Untuk sayap atas, potong kawat sampai 4,4 inchi (11,2 cm) dan 5 inchi(12,7 cm) untuk badan kupu-kupu.

2. Sama ratakan panjang kawat tadi dengan membuat lubang di tengah-tengah panjang kawat sehingga kawat sama panjang. Untuk membuat lubangnya, anda dapat menggunakan batang kuas agar lingkaran pada tengah-tengah kawat menjadi simetris. Setelah itu, tekuk kawat secara vertikal kebawah untuk rangka badan kupu-kupu untuk membentuk sebuah kait untuk memegang karet gelang seperti gambar.

3. Buatlah lingkaran pada kawat yang akan menjadi sayap atas kupu-kupudan lilit kandi sekitar pangkal kuas. Sambi lmembentuk lingkaran, pelintir kawat dengan menggunakan tangan untuk membentuk lingkaran, dan tekuk ekor kawat keluar untuk membentuk dasar untuk sayap.

4. Ambil karet gelang silikon dan hubungkan antara kawat untuk sayap dan kawat badan kupu-kupu sehingga karet silikon berada di tengah seperti pada gambar

5. Jika sudah, anda dapat mempersiapkan sayapnya dengan karton berwarna dan gambar sayapnya. Anda dapat membuat sayapnya dengan menggunakan corak seperti yang Anda inginkan. Sayap kupu-kupu tidaklah harus sempurna yang penting anda memiliki sifat kreatif untuk membuat sayapnya. Jika sudah potong sayapnya, untuk lebih nyata, berikan alur hitam dengan menggunakan spidol hitam di sisi luar sayap kupu-kupu atas dan bawah dan berilah titik-titik putih dengan menggunakan cat berwarna putih atau Tipe-X pada sisi luar yang telah diberi spidol seperti gambar.

6. Sesudah menghias sayapnya, sambungkan sayap dengan badan kawat dengan menggunakan lem atau isolasi. Dengan ini jadi sudah kupu-kupu yang cantik sudah anda dapatkan tanpa harus susah payah menangkap kupu-kupu.

7. Ternyata, kupu-kupu ini sayapnya bisa kita gerakan loh. Caranya, putar kepala kupu-kupu atau sayap atas sekitar 10-20 putaran lalu lepaskan ke udara. Dengan demikian seakan-akan kupu-kupunya bisa terbang. Namun perlu diketahui jika anda memutar terlalu kuat, maka kawat akan putus dengan mudah.

Selamat mencoba & semoga berhasil !

(Dikutip dari youaremyfave.com)

Yuks Dorong Anak Didik Menjadi Generasi Kreatif dan Peduli!

Concerned Generation atau generasi peduli harus dibentuk sejak dini, begitu pula dengan kreatifitas. Sekolah menjadi salah satu tempat utama anak menghabiskan sebagian besar waktunya. Mereka belajar, menimba ilmu, bermain, berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman dan guru di sekolah selama 7 hingga 8 jam setiap harinya. Oleh karena itu, sekolah memegang peranan penting dalam pembentukan karakter dan daya pikir anak. Selain keluarga, sekolah menjadi tempat dan langkah awal anak untuk membangun fondasi yang baik dan kuat, bukan hanya dari segi kemampuan intelektual dan pengetahuan, namun juga perkembangan diri dan kemampuan emosional secara pribadi.

Guru adalah fasilitator dan pendidik utama dalam proses perkembangan anak didik. Dewasa ini perkembangan kecerdasan intelektual dan emosional menempati porsi yang sama. Logika dan rasa adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Berfikir maupun bertindak akan menjadi faktor pendukung kesuksesan anak didik. Apa yang seharusnya dilakukan guru untuk membantu perkembangan anak menuju generasi kreatif secara intelektual dan peduli secara emosional?

1. Jadilah teman atau partner anak didik

Guru menjadi orang tua kedua, teman dan partner terdekat dengan anak didik, yang berinteraksi dan berkomunikasi secara intensif dengan mereka. Dengan mendekatkan diri, menempatkan diri menjadi teman anak didik, hubungan guru dan anak didik akan terasa lebih dekat, karena jarak terkadang menjadi kendala untuk membangun komunikasi. Belajar dengan serius ketika akan menghadapi ujian, bercanda di waktu istirahat, duduk bersama anak didik ketika mereka ada masalah untuk dipecahkan, mendengarkan curhat dan komunikasi-komunikasi sederhana dengan anak didik bisa menjadi ramuan jitu untuk memenangkan hati dan perhatian mereka. Dengan duduk dekat dengan anak didik, kita akan lebih bisa memahami karakter dan kemauan mereka. Terlebih lagi, anak didik akan melihat guru sebagai figur untuk dicontoh. Sebagaimana mereka diperlakukan, seperti itulah mereka akan memperlakukan teman ataupun orang-orang yang mereka temui.

2. Belajar mengajar kreatif

Explore kemampuan anak dengan cara mendorong anak untuk berfikir out of the box. Hal ini akan memacu anak untuk berfikir secara kreatif yang akan memunculkan ide-ide baru, pemikiran-pemikiran baru dan solusi-solusi baru ketika menghadapi masalah, baik dalam pelajaran maupun kehidupan sehari-hari. Demikian juga dengan cara pengajaran kurikulum yang diberikan, jangan hanya terbatas pada apa yang tertulis, melainkan cari cara-cara baru, informasi-informasi baru dan bahan-bahan baru, tanpa harus berubah dari tujuan dasar yang berhubungan dengan materi yang diajarkan.

3. Picu keingintahuan anak

Dari rasa ingin tahu akan muncul banyak pertanyaan. Dari banyak pertanyaan itu akan membentuk pola pikir yang kritis. Untuk itu, selalu sajikan materi pelajaran yang dapat memicu pertanyaan anak, perbanyak diskusi dan explorasi masalah untuk dipecahkan bersama-sama sehingga materi yang diajarkan akan merangsang daya pikir mereka untuk selalu berfikir secara logis dan ilmiah. Dampingi anak untuk mencari jawaban dari setiap rasa keingintahuan yang diajukan. Perlu diperhatikan, di level ini, anak didik memiliki anggapan bahwa guru adalah orang yang menurut mereka serba tahu sehingga mereka akan banyak berharap jawaban dari guru mereka. Oleh karena itu, guru harus selalu terupdate dan terlatih untuk menghadapi berbagai kondisi anak, persiapkan diri juga untuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak terduga dari anak didik.

4. Ajari anak untuk percaya pada kemampuan diri

Setiap anak bertalenta. Hal ini adalah pemikiran dasar yang harus dimiliki seorang guru. Jika guru percaya dengan apa yang bisa dilakukan oleh anak didik, apa yang bisa dilakukan oleh mereka bahkan bisa beyond our expectation, melebihi apa yang kita bayangkan. Beri mereka support, semangat dan motivasi. Selalu ada buat mereka sehingga mereka tidak akan merasa sendiri dalam menyikapi situasi dan tantangan yang dihadapi. Temukan dan ketahui talenta masing-masing anak dan dorong mereka untuk menggali lebih mengenai talenta itu. Jika ada anak suka basket misalnya, ajak anak untuk menekuni bidang itu. Demikian juga jika anak suka pelajaran matematika, gali dan bimbing mereka untuk mengekspore lebih kemampuannya.

Menghadapi, memahami dan mengekplore kemampuan anak hingga maksimal memang bukan hal yang mudah dilakukan. Dibutuhkan kesabaran, ketelitian dan passion untuk profesi yang satu ini. Namun jika sudah panggilan, menjadi bagian dari kehidupan dan perkembangan anak didik menjadi hal yang tidak bisa dilewatkan ya? Bapak ibu guru pasti lebih tahu bagaimana rasanya menjadi bagian dari kesuksesan anak didik. Mari menjadi bagian dari mereka, dalam porsi kita masing-masing…mencapai perkembangan diri anak menjadi generasi peduli dan kreatif. Selamat berkarya.

UN untuk SD Akan Dihapus?

Sehubungan dengan berjalannya kurikulum 2013 yang dilaksanakan pada pertengahan tahun ini, Ujian Nasional untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) akan ditiadakan berdasarkan kesepakatan Kemendikbud dan sesuai Peraturan Pemerintah (PP) No. 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang ditandatangani Presiden Republik Indonesia pada minggu yang lalu.

Memang UN untuk SD ini ditiadakan, namun sebagai gantinya akan diadakan evaluasi oleh sekolah untuk anak-anak duduk di bangku SD ini untuk ke jenjang selanjutnya. Pasalnya, untuk mengukur kemampuan siswa pada tiap jenjang pendidikan harus dilakukan evaluasi yang sesuai.

Dengan demikian, mulai tahun depan anak-anak SD tidak lagi akan disibukan dengan UN. Untuk UN yang masih akan dilakukan tahun ini, dalam pengawasannya akan dilakukan sistem silang pengawas yaitu pengawas tidak dari sekolahnya sendiri.

Selain itu dalam kurikulum 2013 akan ada beberapa perubahan di kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), contohnya pembelajaran agama dan budi pekerti yang akan ditambah jam belajarnya.

Jika pada jam belajar pada tahun sebelumnya hanya 2 jam, pada era kurikulum baru ini akan ditambah menjadi 4 jam. Hal ini diberlakukan oleh Kemendibud agar dapat menghasilkan anak-anak yang tidak hanya cerdas namun dengan pemberian ilmu penanaman budi pekerti, tata krama yang penting dan itu semua harus ditanamkan kepada anak-anak agar kelak mereka memiliki kepribadian yang bermoral dan santun.

Kebijakan penghapusan UN SD ini juga makin menjadi pertimbangan mengingat kurikulum baru yang akan segera diterapkan pada pertengahan Juli mendatang. Pendekatan metode pembelajaran yang berbeda nantinya akan membuat sistem evaluasinya juga berubah. Kurikulum baru pendekatannya berbeda, pasti akan ada evaluasi berbeda. Jadi tetap akan dibahas semuanya.

Namun, UN jenjang SMP dan SMA tetap akan ada seperti biasa. Penghapusan ini ada kaitannya dengan program wajib belajar 9 tahun dan kurikulum 2013 yang akan segera diterapkan pada pertengahan Juli ini.

Kemendikbud kembali menjelaskan bahwa format evaluasinya nanti bisa dikerjakan oleh daerah. Yang pasti penghapusan UN ini tidak akan menghilangkan sistem evaluasi pada jenjang pendidikan dasar tersebut. Pasalnya, di tiap jenjang pendidikan memang harus terdapat sistem evaluasi.

(Dikutip dari berbagai sumber)

Perlukah Mengajarkan Calistung di Usia Dini?

Tak sedikit orangtua yang bangga dengan kemampuan balitanya dalam membaca, menulis dan berhitung (calistung). Mereka yakin anak yang diajarkan kemampuan calistung sejak dini lebih pintar dari anak seusianya.

Di tambah lagi, kini semakin banyak sekolah dasar yang mensyaratkan calon siswanya punya kemampuan calistung, kendati hal itu sebenarnya dilarang. Karena khawatir anaknya tidak bisa masuk ke SD favorit, para orangtua pun berlomba-lomba mengajari anaknya calistung, antara lain dengan memilih playgroup atau TK yang menjamin balita mahir calistung sebagai persiapan masuk SD.

Apabila minat membaca dan menulis anak sudah muncul sejak dini mungkin proses mengajarkan calistung pada anak menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Namun faktanya kebanyakan anak baru benar-benar siap belajar membaca dan menulis di atas usia 5 tahun.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal, Kemdikbud, Lydia Freyani Hawadi, seperti dikutip Kompas (12/1/12) pernah mengingatkan bahwa jenjang PAUD seharusnya tidak membebani anak dengan kemampuan calistung. Siswa baru boleh diajar calistung di SD.

Metode pendekatan di PAUD, kata Lydia, tidak didasarkan pada aspek kognitif, tetapi pada aspek motorik. Karena perkembangan anak usia 0-5 tahun masih terfokus pada aspek motorik, seharusnya metode pembelajarannya lebih menekankan pengembangan soft skill dengan cara bermain.

Lagipula, masa balita adalah masanya bermain dan bermain. Memaksakan anak melakukan sesuatu yang sebenarnya ia belum siap justru akan memberikan pengalaman yang tidak menyenangkan, bahkan akhirnya muncul penolakan.

“Banyak orangtua yang memilih PAUD bukan yang berdampak bagus bagi perkembangan buah hatinya, tapi PAUD yang hasilnya dapat membanggakan orangtua. Yang terjadi, anak pun menjadi stres di usia dini,” kata Paulin Sudwikatmono, principal KindyROO, sebuah sekolah bagi anak usia dini.

Ia menambahkan, karena terlalu fokus untuk diajarkan calistung pada usia yang sangat dini, anak-anak tidak berkembang secara alami sebagaimana mestinya karena di masa yang instan ini anak-anak dipacu untuk belajar dan tidak diberikan kesempatan untuk membangun fondasi yang kuat dan berkembang secara alami.

“Sebagai contoh, banyak orang tua yang merasa bahwa anak-anak tidak perlu merangkak lama dan memburu-burukan anak untuk berjalan. Atau juga anak tidak perlu distimulasi motorik halusnya seperti menstimulasi keterampilan tangan dan langsung mengajar anak untuk bisa menulis,” katanya.

Akibatnya, ada anak yang sudah berumur 6 tahun tetapi anak tersebut tidak dapat menulis dengan baik atau tidak dapat menulis dalam jangka waktu yang lama karena tangan cepat letih.

Kemampuan merangkak pada anak sebenarnya juga memberikan stimulasi yang banyak terhadap anak tersebut, seperti menstimulasi konsentrasi, mata, koordinasi dan kekuatan otot tubuh. Tetapi karena diburu-buru untuk berjalan cepat dengan cara dititah atau menggunakan alat bantu berjalan (walker), anak-anak tersebut kehilangan kesempatan untuk distimulasi secara benar.

“Orang tua juga berpandangan bahwa anak-anak tidak perlu bermain lama. Jika anak terstimulasi dengan baik dan benar pada saat usia dini dan diberikan kesempatan untuk bermain, anak tersebut tidak akan menemui hambatan dalam belajar di kemudian hari dan anak tersebut distimulasi untuk menjadi lebih kreatif,” paparnya.

Bermain yang terarah merupakan fondasi yang penting untuk menunjang kesempurnaan dalam kemampuan belajar di kemudian hari.

“Di KindyROO, kami memberikan arahan dan pengalaman kepada orang tua bagaimana cara menstimulasi anak dengan cara yang baik dan benar untuk menghindari kesulitan belajar di kemudian hari pada saaat mereka masuk usia sekolah,” ujar Paulin.

Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, KindyROO mendidik orang tua dan anak agar setiap fase pekembangan dalam anak harus dilalui dan dikuasai. Anak tidak dipaksa secara instant untuk melakukan hal-hal yang tidak cocok untuk usianya.

Anak-anak juga harus diberikan waktu untuk berkembang secara alami dan diberikan waktu yang banyak untuk bermain secara terarah. Yang paling penting adalah anak-anak diberikan fondasi yang kuat dan otak distimulasi secara maksimal agar anak-anak siap menghadapi tantangan pada saat sekolah nanti.

Sumber: kompas.com